Ayo memburu jadi guru Profesional

guru , berGUna tanpa harus saRU

Selasa, 01 November 2011

MATEMATIKA BUKAN GENDRUWO

MATEMATIKA BUKAN “GENDRUWO” Oleh: Yustinus Tri Warsanto Guru SMPN 30 Semarang TERBIT DI KORAN JAWA POS RADAR SEMARANG MINGGU,TANGGAL 2 OKTOBER 2011 Gendruwo menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah kata yang berasal dari Bahasa Jawa yang artinya sejenis hantu yang digambarkan sebagai manusia berbulu tebal, dalam Bahasa Indonesia disebut momok yang berarti hantu atau sesuatu yang ditakuti. Demikian pula matematika selalu menjadi gendruwo atau momok yang berarti hantu yang ditakuti bagi peserta didik terutama saat menjelang Ujian Nasional. Hal ini ada benarnya, karena peserta didik selalu menghadapi soal-soal matematika yang menurut perasaan mereka sangat sulit dan selalu tidak bisa menjawab dengan benar soal-soal yang diberikan oleh gurunya, sehingga peserta didik mempunyai perasaan takut terhadap soal-soal matematika. Ketakutan kalau pada saat Ujian Nasional nanti tidak bisa menyelesaikan soal dengan benar, sehingga nilai matematikanya jatuh dan tidak memenuhi kriteria kelulusan yang telah ditentukan oleh pemerintah. Karena tidak memenuhi kriteria kelulusan atau standar kelulusan maka dinyatakan tidak lulus, akibatnya jika ada pelajaran matematika atau melihat guru matematikanya seakan merasa melihat hantu gendruwo atau momok yang ditakuti. Banyak penyebab dan pengaruh yang menjadikan peserta didik merasa kesulitan dan tidak bisa menyelesaikan soal matematika dengan benar, kemudian terhadap pelajaran matematika mulai tumbuh rasa takut yang selalu menghantui dalam kehidupan belajar peserta didik. Untuk mengetahui penyebab dan pengaruh tersebut, kita sebagai guru harus mau meninjau terhadap sikap diri kita, mawas diri atau introspeksi baik pada saat mengajar maupun setelah mengajar. Introspeksi kita yang pertama adalah, apakah kita sudah mengenal peserta didik? Mengenal baik secara fisik maupun secara mental. Kedua, apakah kita sudah memberikan materi matematika sesuai porsi yang seharusnya? Porsi sesuai fisik dan mental peserta didik. Ketiga, apakah kita sudah memberikan materi matematika sesuai konsep atau kaidah yang benar? Konsep dan kaidah yang benar sesuai porsi yang telah ditentukan. Keempat, apakah kita sudah mengetahui bahwa materi yang kita berikan sudah dimengerti dan dipahami peserta didik? Dipahami dan dimengerti sesuai konsep dan kaidah yang berlaku, dan yang kelima, apakah kita sudah berusaha membantu kesulitan peserta didik untuk memahami materi yang kita berikan? Membantu sesuai kesulitan yang dialami baik secara fisik maupun mental peserta didik kita. Marilah kita kupas satu persatu kelima pertanyaan introspeksi diri sebagai seorang guru matematika. Pertama adalah mengenal peserta didik, mereka adalah manusia yang unik yaitu mempunyai kemampuan, pikiran dan olah rasa yang berbeda satu sama lain, manusia yang mempunyai ciri khas atau kekhususan tersendiri, berarti sebagai guru kita harus atau berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan sesuai keunikan masing-masing peserta didik, karena peserta didik adalah modal dasar dari seorang guru untuk memulai mengajar dan jika kita sudah mengenal secara fisik maupun mental peserta didik maka kita sebagai guru dapat menjadi sahabat mereka sehingga rasa takut terhadap guru matematika akan berkurang atau bahkan hilang, sehingga keadaan ini memudahkan guru untuk mengajar dengan berbagai gaya, metode dan model yang dapat dimengerti dan dipahami oleh peserta didik. Dalam pembelajaran yang kita lakukanpun dapat menjaga perasaan dan mental peserta didik. Sebagai contoh kita mengajar penjumlahan bilangan bulat, pada saat kita menjumlahkan bilangan negatif dengan bilangan positif adakalanya kita sebagai guru mengumpamakan bilangan negatif sebagai hutang, sementara peserta didik sebagian besar secara fisik dan mental dari keluarga mampu mereka tidak pernah tahu namanya hutang, namun jika peserta didik dari golongan menengah ke bawah (maaf) dan orang tuanya sering berhutang mungkin saja mereka dapat menerima penjelasan dari guru, tetapi mungkin saja tanpa sepengetahun kita, peserta didik akan merasa minder bahwa orang tua mereka sering berhutang dan harus membayar hutang tersebut yang berdampak peserta didik ikut menanggung beban pikiran, dengan demikian penjelasan yang mengumpamakan bilangan negatif sebagai berhutang pada peserta didik merupakan hal yang tidak sesuai dengan penanaman pendidikan berkarakter, maka pembelajaran yang kita berikan tidak pas secara fisik dan mental. Untuk porsi materi matematika yang diberikan harus sesuai dengan seharusnya, maksudnya materi matematika kita berikan menurut silabus yang kita buat dan kita kembangkan sesuai fisik dan mental peserta didik, banyak guru matematika memberikan materi kurang ataupun melebihi porsi, maaf hal ini sering terjadi dikarenakan ingin dilihat dan diakui bahwa guru sekolah yang bersangkutan adalah guru yang hebat , guru yang selalu memberi soal-soal matematika yang sulit, soal yang belum saatnya diberikan sudah disajikan lebih dahulu (kecuali program olimpiade), sehingga peserta didik merasa takut tidak bisa menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Ada juga guru yang saking asyiknya mengajar satu materi tertentu sampai lupa materi yang lain, sehingga untuk menyajikan materi yang lain, guru sudah kehabisan waktu. Akibat yang terjadi peserta didik disuruh belajar sendiri, jika fisik dan mental mereka belum siap untuk belajar mandiri maka akibatnya peserta didik akan semakin bingung yang berimbas kesulitan menyelesaikan soal-soal matematika dan menjadi-jadi ketakutannya terhadap matematika. Introspeksi yang ketiga adalah konsep dan kaidah yang benar sesuai porsi yang tidak berlebihan ataupun porsi yang kurang adalah modal dimana peserta didik mampu memahami materi matematika sebaik mungkin yang berdampak positif yaitu dapat menyelesaikan soal-soal matematika dengan benar. Jika kita sebagai guru memberikan konsep yang salah dan kita mengetahuinya hendaknya kita harus berani membenarkan kesalahan kita. Contoh sederhana yang sering kali kita melakukan kesalahan yaitu memberikan aturan pemberian nama dari suatu bangun ruang sisi datar misalnya balok, sebuah balok kita beri nama balok ABCD.EFGH. Memang sederhana hanya memberi nama balok tetapi jika kita sebagai guru hanya menuliskan saja nama balok tersebut pada gambar tanpa menjelaskan aturannya bisa mengakibatkan pemahaman peserta didik salah dan berlainan persepsi dengan apa yang seharusnya, maka peserta didik akan menjawab salah semua soal-soal yang berhubungan dengan unsur-unsur balok. Konsep salah akan tertanam berkelanjutan terus menerus, lebih-lebih jika salah konsep pada materi yang esensial maka akan mempengaruhi semua materi, sehingga dalam menyelesaikan soal-soal matematika akan selalu salah, dampak yang timbul adalah persepsi peserta didik bahwa matematika adalah pelajaran sulit. Karena selalu salah dan beranggapan matematika adalah pelajaran sulit memunculkan kembali perasaan takut akan matematika, seperti gendruwo yang selalu ingin menakut-nakuti. Setelah kita memberikan pembelajaran sesuai konsep dan kaidah yang benar, maka sebagai seorang guru yang bersahabat dengan peserta didik hendaknya kita mau menanyakan kepada sahabat kita, apakah sahabat kita yang nota bene adalah peserta didik kita sudah mudeng mengenai materi yang telah kita berikan. Jika kita sebagai guru bertanya kepada peserta didik tentang materi yang telah diajarkan pastilah jawaban yang akan diberikan oleh peserta didik adalah: sudah mudeng pak, atau sudah jelas pak! Tetapi jika kita bertanya sebagai seorang sahabat, kemungkinan besar sahabat kita akan berkeluh kesah mengenai pemahaman yang diterima, namun dalam persahabatan ini adalah persahabatan sesuai konsep dan kaidah profesi guru, masih tetap ada batasan-batasan tertentu antara guru dan peserta didik. Seorang guru yang sudah mengerti tentang seberapa pemahaman peserta didiknya hendaknya segera membantu untuk mengatasi kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal matematika yang diberikan. Bantulah peserta didik secara individu untuk mengatasi kesalahan-kesalahan yang terjadi. Sebagai contoh pernah terjadi peserta didik saya selalu salah dalam mengerjakan soal fungsi yang salah satu variabelnya berpangkat, sampai-sampai putus asa dan mengeluh “… pak pak sampai jambul wanen salah terus…” yang artinya “ …pak pak sampai rambutku putih salah terus … “ keluhan inilah yang mengakibatkan gendruwo-nya bangkit kembali, rasa putus asa dan ketakutan untuk menyelesaikan soal yang berakibat munculnya rasa khawatir dan takut salah lagi menimbulkan antipati terhadap pelajaran matematika. Setelah saya dekati sebagai seorang sahabat dan saya lihat cara menyelesaikannya, kesalahannya sangat sederhana yaitu bilangan berpangkat selalu diselesaikan dengan cara bilangan dikalikan dengan pangkatnya. Hal sederhana inilah yang memerlukan bantuan dan bimbingan guru secara individual untuk mengatasi permasalahan yang selalu timbul pada peserta didik. Dari kelima pertanyaan introspeksi diri seorang guru matematika, dapat disimpulkan bahwa guru matematika tidak hanya pandai berhitung saja melainkan harus mampu mengenal peserta didiknya secara fisik dan mental agar porsi materi yang kita berikan bisa dipahami sesuai dengan kaidah dan konsep yang berlaku serta kita mampu membantu kesulitan peserta didik secara individual sesuai dengan kebutuhan fisik dan mentalnya. Dengan ulasan mawas diri inilah kita dapat menghapus image peserta didik yang semula menganggap bahwa matematika sangat menakutkan seperti gendruwo, berubah menjadi matematika bukan gendruwo tetapi matematika adalah pelajaran menyenangkan dimana gurunya bersikap bersahabat dengan peserta didik dan yang terpenting peserta didik tidak mengalami kesulitan berarti untuk menyelesaikan soal-soal matematika. Semoga. SILAHKAN COPY DAN MAAF SEBUTKAN PENULIS ASLINYA

Selasa, 24 Mei 2011

JADWAL PPD SMP 30 TAHUN 2011 KOTA SEMARANG

Penerimaan Peserta Didik (PPD) yang dulu disebut Penerimaan Siswa Baru (PSB) kota Semarang untuk SD, SMP, SMA non RSBI akan dimulai tanggal 27 Juni 2011 s.d. 2 Juli 2011 secara online serta semua persyaratan silahkan klik di sini PPD 2011 KOTA SEMARANG dan pendaftaran serta verifikasi pendaftar di sekolah mulai tanggal 28 Juni 2011 s.d. 2 Juli 2011

TUNJANGAN SERTIFIKASI GURU 2011

Saudara-saudara ku Guru di GUgu lan ditiRU jika panjenengan belum dapat atau belum keluar SK TUNJANGAN PROFESINYA silahkan hubungi tulis email # kirim ke: profesidikdas@yahoo.com atau buka web http://sertifikasiguru.org/ atau langsung lihat di sini web p2tk semoga SEJAHTERA salam

Senin, 31 Januari 2011

SIAP UJIAN NASIONAL 2011

SMPN 30 SEMARANG SIAP MENGHADAPI UN 2011


Lulus 100% dengan Nilai Luar Biasa adalah slogan SMP Negeri 30 Semarang yang telah dicanangkan oleh Kepala SMPN 30 yaitu Bapak Drs. Al. Bekti Wisnu Tomo,MM sejak akhir semester 1 yang lalu, slogan tersebut mengajak para siswa, guru dan semua warga sekolah untuk berlomba meraih prestasi yang terbaik. Untuk itu baik siswa maupun guru pada saat ini sudah mulai menyusun kiat- kiat untuk menghadapi Ujian Nasional yang akan diselenggarakan pada tanggal 25 April 2011 sampai dengan 28 April 2011. Kiat-kiat yang paling menonjol adalah adanya penambahan jam pelajaran pagi dimulai pukul 06.15 yang telah dimulai sejak bulan Oktober 2010 baik untuk kelas IX maupun kelas VIII, demikian juga untuk siswa yang dianggap sangat kurang dan membutuhkan perhatian khusus, diberikan juga pelayanan khusus berupa Klinik pembelajaran, dimana siswa tersebut diberikan pembelajaran khusus secara privat diluar jam pelajaran. Diharapkan dengan berbagai kiat tersebut siswa SMPN 30 Semarang dapat mencapai target kelulusan yang diinginkan. Inilah beberapa kiat dari bapak/ibu guru dan siswa SMPN 30 Semarang

Wakil Kepala SMPN 30: Hj. Aminah K, S.Pd.,M.Pd. (Bu Am)
- Mengkondisikan Guru dan siswa untuk sukses UN
- Guru harus memberikan motivasi kepada siswa untuk semangat belajar meraih nilai terbaik meskipun kelulusan menggunakan formula baru
- Efektif PBM, Penambahan jam pelajaran
- Menangani secara khusus siswa yang kurang dengan Klinik

Guru IPA SMPN 30: M. Zajuri, S.Pd. (Pak Z)
- Dekati Tuhanmu, disiplin, kurangi tidur
- Perbanyak latihan dan Klinik untuk yang kurang




Guru Bhs Indonesia SMPN 30: Dra. Suprihatiningsih ( Bu Prih)
- Berlatih menjawab soal-soal dengan merinci kesulitan yang sering dihadapi siswa
- Klinik adalah andalan untuk siswa yang kurang


Guru Bhs. Inggris SMPN 30: Yogi Kristiana, S.Pd. (Bu Yogi)
- Drill soal-soal
- Mendata kosa kata-kosa kata terbaru
- Perhatian untuk siswa kurang ditambah porsinya


Guru Matematika SMPN 30: Sri Widiastuti (Bu Wid)
- Latihan soal diperbanyak
- Pendekatan secara pribadi baik pada jam pelajaran maupun saat diluar pelajaran bagi anak-anak yang kurang
- Klinik adalah usaha yang nyata untuk penyembuhan

Siswa SMPN 30: Widya Ayu (Ayu)
- Mengurangi kegiatan yang tidak penting
- Mengurangi bermain HP terutama SMS
- Jam belajar ditambah


Siswa SMPN 30: Bagaskoro (Bagas)
- Belajar dengan mandiri
- Mengurangi menonton TV
- Mengurangi bermain game dan internet

Rabu, 25 Februari 2009

SEKOLAH GRATIS BAK “SIMALAKAMA”
Oleh : Yustinus Tri Warsanto
Guru Matematika SMP 30 Semarang
Sekolah gratis…
Ku nanti engkau …
Ku harap dikau … dengan penuh harap cemas
Bagai buah segar disaat kemarau … menyegarkan anggaranku
Sayang hanya kukulum engkau …supaya tidak ada yang mati, karena engkau hanyalah buah simalakama.
Kebijakan dan ide tentang sekolah gratis sangatlah dinanti oleh masyarakat sekolah maupun masyarakat secara umum, sambutan antusias berbagai golongan baik dari kalangan politikus, birokrat, pendidik, siswa, orang tua siswa dan masyarakat umum memenuhi berbagai berita, baik berita media cetak, maupun elektronik. Suatu gagasan yang sangat tepat dan akurat disaat mana masyarakat sangat tertekan dengan perekonomian yang tidak stabil serta melonjaknya harga disegala sektor karena gonjang-ganjingnya kenaikan harga BBM. Sekolah gratis ini untuk masyarakat adalah suatu anugerah bagaikan seseorang mendapatkan buah segar disaat musim kemarau dimana rasa haus dan lapar terpenuhi, demikian juga sekolah gratis menyegarkan anggaran masyarakat yang memang betul-betul kekurangan dana untuk pendidikan putra-putrinya, tetapi bagi masyarakat yang tergolong mampu sekolah gratis ini bagaikan memberikan garam diair laut. Bagi golongan pendidik dan sekolah kebijakan ini adalah sesuatu yang sudah lama dinanti-nantikan supaya menjadi suatu kenyataan dimana sebagai pendidik tidaklah bersusah payah harus berpikir bagaimana cara menggali dana dari orang tua siswa dan masyarakat untuk kemajuan dan peningkatan prestasi siswa maupun sekolah. Sekolah dan guru sudah tidak lagi dipusingkan oleh siswa yang belum membayar sekolah ataupun belum membayar uang pengembangan institusi, sehingga perhatian guru sebagai pendidik hanya terkonsentrasi pada bagaimana cara mengajar dan bagaimana menyusun strategi untuk meningkatkan kualitas prima bagi siswanya.
Simalakama
Tapi sayang kenyataan buah yang dinanti hanyalah buah simalakama yang tidak bisa dimakan hanya dikulum saja, dikulum supaya bapak dan ibu tidak mati, artinya dengan kebijakan sekolah gratis menimbulkan berbagai permasalahan baru. Permasalahan yang timbul adalah terpecahnya persepsi masyarakat dimana masyarakat sebagian besar menerima mentah-mentah berita ataupun pemberitaan baik di media cetak maupun media elektronik dengan garis bawah bahwa sekolah gratis ya semuanya gratis tanpa memikirkan bahwa anggaran sekolah gratis adalah tercukupinya kebutuhan minimal sekolah, sebagian kecil masyarakat ada yang menganggap bahwa sekolah gratis yang tis tanpa mengeluarkan biaya apapun tidak bisa meningkatkan prestasi sekolah dan putra – putrinya, ada istilah jawa Jer Basuki Mawa Bea yang dapat diartikan “jika mau berhasil ya harus mengeluarkan biaya”. Persepsi masyarakat semuanya benar karena dalam berita dan pemberitaan di media cetak maupun elektronik jarang sekali menyebutkan bahwa sekolah gratis hanyalah gratis dalam pembiayaan minimal sekolah, disisi lain bahwa pendapat pendidikan yang berkualitas mahal harganya juga benar adanya. Permasalahan yang lain adalah sekolah sebagai ujung tombak pendidikan dan unit pelaksana teknis harus dan mau melayani serta memenuhi kebutuhan pendidikan di sekolah masing-masing seperti sebelumnya, padahal kebijakan sekolah gratis dana yang diberikan adalah dana kebutuhan minimal sehingga segala kebutuhan harus dihitung dan dicukupi dari dana tersebut. Bagi sekolah yang biasanya membutuhkan dana yang lebih besar dari dana minimal maka hal ini terasa sebagai suatu kemunduran, pelayanan yang membutuhkan dana besar akan terhambat, disisi lain akan menarik iuran untuk mencukupi kebutuhan jelas tidak diperbolehkan. Tetapi sebagai barisan terdepan dari pendidikan apapun alasannya harus “siap grak” melaksanakan semua kebijakan, biarpun harus mengulum buah simalakama artinya jika sekolah tidak melayani dengan sebaik-baiknya maka akan timbul gejolak tetapi jika sekolah akan melayani dengan sebaik-baiknya membutuhkan dana yang banyak dan dana itu dari siapa? Padahal yang diberikan hanyalah dana kebutuhan minimal. Hal ini disebabkan karena kurangnya informasi dan saling keterbukaan antara pembuat kebijakan, sekolah dan masyarakat sehingga mengakibatkan terjadi suatu salah komunikasi dan salah persepsi.
Keterbukaan
Supaya kebijakan sekolah gratis ini terlaksana dengan baik, hendaknya terjadi saling keterbukaan antara pembuat kebijakan, sekolah dan masyarakat. Sehingga perlu adanya langkah-langkah bersama dalam usaha mensukseskan kebijakan sekolah gratis ini. Sebagai pembuat kebijakan hendaknya mau menjelaskan secara terbuka kepada masyarakat baik melalui media cetak , media elektronik maupun petugas-petugas dimasyarakat bahwa kebijakan sekolah gratis adalah gratis untuk kebutuhan minimal sekolah dan sekolah masih membutuhkan dana-dana lain untuk mendukung pelaksanaan pendidikan dimana dana tersebut berasal dari orang tua siswa dan masyarakat, sehingga masyarakat tidak hanya menelan mentah-mentah informasi sekolah gratis adalah gratis semuanya. Sekolah sebagai lembaga pendidikan terdepan hendaknya mau lila legawa melaksanakan kebijakan sekolah gratis, belajar dan berusaha mengolah apa yang didapat menjadi sesuatu yang berharga dan tetap mampu melaksanakan pembelajaran yang berkualitas. Memang sangatlah tidak mudah melaksanakan hal ini, dengan sedikit mengurangi beberapa titik yang tidak perlu sekali maka “mungkin” kebutuhan akan tercukupi, tetapi akan muncul kembali pertanyaan Jer Basuki Mawa Bea . Dari pertanyaan ini hanyalah keterbukaan orang tua siswa dan masyarakatlah yang bisa menjawab, akan dibawa kemana putra - putrinya dalam pendidikan sekolah gratis. Orang tua siswa dan masyarakat hendaklah lebih peka menganalisa dan menentukan serta ikut terlibat dalam memajukan prestasi pendidikan putra-putrinya. Mutu siswa juga bergantung pada orang tua siswa dan masyarakat, orang tua siswa dan masyarakat yang peduli serta mampu hendaknya mau ikut serta memikirkan pendanaan bagi pendidikan putra-putrinya, bagi orang tua siswa dan masyarakat yang tidak mampu “gratislah” jawabannya
Setelah terlaksana semuanya, apapun hasilnya nanti evaluasi kebijakan untuk sekolah gratis perlu dilakukan baik ditingkat pembuat kebijakan, sekolah maupun masyarakat.

artikel ini pernah terbit di radar semarang jawa pos
DAMPAK NEGATIF “SMS” BAGI PELAJAR
Oleh :
Yustinus Tri Warsanto
Guru Matematika
SMP Negeri 30 Semarang
Ow, map diN … Try T zok zdwlq .,. B.Jw ox.,DiN … brrTi.,lez maTny slsa j y … Okay. Tulisan ini merupakan salah satu contoh sms gaul seorang pelajar kepada temannya. Mereka setiap saat, malah bisa dikatakan setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik tak henti-hentinya ber-sms ria, tek,tek,tek … tek kecepatan ibu jari memencet-mencet diatas tut hp mengalahkan kecepatan otak untuk berpikir memahami pelajaran. Memang sms pada saat ini adalah cara berkomunikasi melalui hp yang cepat, murah serta canggih dan digemari anak-anak yang nota bene mereka adalah pelajar, lebih-lebih hp sudah bukan merupakan barang mewah lagi, dengan harga yang relatif terjangkau, sehingga berbagai kalangan baik orang tua, dewasa maupun anak-anak, yang berekonomi kuat, sedang dan yang berekonomi lemahpun semua punya hp sehingga sebagian besar pelajar mempunyai hp. Tapi sayang, alat komunikasi dengan sms ini jika berada ditangan seorang pelajar serta penggunaannya tanpa pantauan dari orang tua, lambat laun sangat membahayakan dalam hal ini yang kita garis bawahi adalah bahaya sms bagi seorang pelajar. SMS yang merupakan singkatan dari Short Message Service bisa menjadi singkatan dari Siswa Malas “Sinau” ,mengapa demikian? Karena tujuan utama sms sebagai alat komunikasi tertulis yang sangat cepat, mudah, murah dan hemat digunakan secara berlebihan terutama oleh pelajar yang sangat menggemari cara komunikasi melalui sms. Sepintas sms hanya merupakan alat berkomunikasi antar teman serta bukan sesuatu bahan atau tingkah laku yang membahayakan, seperti penggunaan narkoba ataupun pergaulan bebas. karena sms hanya mengetik apa yang akan mereka tulis dan “send” kemudian tidak ada dampak yang terjadi pada sipengirim maupun penerima, tetapi setelah kita cermati dengan seksama, ber-sms-ria merupakan suatu ancaman yang sangat berbahaya bagaikan bahaya laten yang sewaktu waktu serta tanpa kita sadari dapat meledak sebagai bencana khususnya bagi pelajar dan umumnya bagi bangsa dan negara ini, bukan bahaya laten seperti yang ditimbulkan G30S/PKI namun banyak sekali kerugian maupun akibat yang ditimbulkan dibelakang hari karena kemalasan serta tertinggalnya prestasi pelajar.
Dampak negatif
Sejauh ini orang tua atau pihak terkait belum menyadari atau belum memperhatikan anak-anaknya saat mereka memegang hp dan waktu menggunakannya. Kalau kita mau melihat, memperhatikan serta mengamati anak-anak kita menggunakan hp, niscaya kita akan tahu bahwa hp ditangan anak-anak kita yang nota bene adalah pelajar digunakan tanpa mengenal batas waktu sejak bangun tidur sampai saatnya akan tidur kembali mereka memegang hp dan ibu jari tanpa henti menari di atas tut hp. Marilah kita amati aktifitas anak-anak kita menggunakan hp. Pertama yang kita amati adalah nada panggil hp, jika anak-anak kita melakukan kegiatan secara positif dan bertanggung jawab pasti nada panggil yang merupakan nada dering tidak dimatikan atau diaktifkan, tetapi sebaliknya jika anak-anak kita sembunyi-sembunyi atau melakukan kegiatan yang tidak berkenan di depan orang tua , lebih – lebih pada saat jam belajar maka nada panggil akan dimatikan atau tidak diaktifkan dan hanya getar atau “silent” yang diaktifkan sebagai nada panggil. Hal ini adalah tanda bahwa anak-anak kita tidak ingin orang tuanya tahu bahwa sebenarnya mereka melakukan aktifitas komunikasi, secara diam-diam inilah mereka melakukan aktifitas sms yang menyita , mengambil serta mengabaikan semua jam-jam belajar dan digunakan untuk ber-sms ria. Dengan seringnya atau malah tanpa henti dan tanpa mengenal waktu untuk ber-sms maka anak-anak kita akan menjadi malas belajar, mereka memegang buku pelajaran hanyalah formalitas belaka dan buku pelajaran hanya digunakan untuk menutupi aktifitas mereka ber-sms, lebih-lebih jika mereka melakukan sms chating , m xit-an, friendster, opera mini jelas waktu belajar mereka akan tersita atau terbuang percuma, akibatnya suasana belajar terasa membosankan, kemauan belajar tidak ada, maka waktu untuk mengingat, memahami pelajaran, serta berlomba meraih prestasi adalah nomor yang kesekian karena yang diutamakan adalah mengirim dan menerima sms, semua konsentrasi hanya tertuju pada sms yang akan ditulis maupun yang akan diterima. Kedua, karena anak-anak kita melakukan kegiatan sms secara berkelanjutan maka akibatnyapun berkelanjutan pula, dampak nyata adalah sianak malas melakukan aktifitas segalanya, dari mandi, makan sampai belajar serta tidur, dengan anak malas melakukan aktifitas positif serta malas melakukan aktifitas belajar maka prestasinya jelas akan merosot dan tidak bisa meraih hasil yang ditargetkan atau dicita-citakan, jika aktifitas ini dilakukan satu anak maka akibatnya yang menanggung hanyalah dirinya sendiri ya anak itu sendiri tetapi jika aktifitas ber sms ini dilakukan banyak anak dan mereka adalah tulang punggung negara dan bangsa, yang akan menggantikan kita-kita membangun negara ini, maka prestasi negara dan bangsa ini akan turun dratis., untuk itu maka perlulah kita waspada dampak negatif yang tidak kita rasakan secara nyata dan langsung ini, bagaikan mewaspadai bahaya laten yang sewaktu-waktu bisa meledak disaat-saat yang akan datang sehingga mengakibatkan kehancuran masa depan anak-anak serta negara ini, kita akan menjadi semakin jauh tertinggal dari negara lain
Upaya penanggulangan
Memang tidaklah mudah untuk mencegah serta menanggulangi terjadinya ledakan bahaya laten akibat kegiatan sms yang dilakukan pelajar tanpa henti tersebut, tetapi setidak-tidaknya kita dapat mengurangi atau meredam bahaya dan akibat yang timbul dari penggunaan sms yang dilakukan dengan tidak semestinya. Penanggulangan yang bersifat preventif dapat melalui keluarga, masyarakat sekolah maupun melalui pihak-pihak yang terkait, semua demi masa depan serta kemajuan generasi muda kita. Melalui keluarga, orang tua setidak-tidaknya mau memulai mengerti dan memperhatikan aktifitas penggunaan hp anak-anaknya lebih-lebih anak-anak kita yang pada bulan-bulan ini mempersiapkan diri untuk menempuh ujian nasional, sehingga kegiatannya dapat terkondisi dengan seimbang antara belajar, refresing serta menggunakan hp maupun beraktifitas komunikasi. Dengan orang tua mau memperhatikan apa yang diperbuat oleh anak-anaknya niscaya anak-anak kita akan terkontrol segala kegiatan sehari-harinya, maka perhatian mereka bisa terarah kepada hal yang positif untuk mendukung daya belajar mereka demi mencapai prestasi yang tertinggi. Dari masyarakat, sekolah sudah lebih dulu mengambil sikap preventif dengan membuat kebijakan yaitu tidak diperbolehkannya siswa membawa hp pada saat jam pelajaran atau pada saat sekolah. Sikap preventif ini sangat mendukung sekali daya belajar anak-anak kita, bagaimana jadinya jika sekolah tidak membuat peraturan ini, maka semua siswa saling berlomba untuk ber-sms maupun bermain game, tetapi dengan kebijakan yang diambil sekolah ini terkadang orang tua ada yang tidak bisa menerima peraturan yang ditetapkan sekolah mengenai hp, berbagai alasan sampai ada komentar dari orang tua “mosok jaman modern ke sekolah tidak boleh membawa hp”. Jangan kita pandang kebijakan dan peraturan sekolah yang melarang siswanya membawa hp ini adalah suatu kemunduran jaman, tetapi kita lihat dari segi positifnya, jika anak tidak membawa hp maka perhatian siswa hanya tertuju pada guru dan pelajaran yang diajarkan. Apa jadinya kalau sekolah membebaskan siswa-siswanya membawa hp, pasti semua siswa akan membawa hp dan saling memamerkan hp, serta berlomba menekan tut secepat-cepatnya dan kata belajar nomor dua bahkan kata belajar tidak ada dalam memori pikiran mereka tetapi yang ada pada memori pikiran mereka hanyalah bermain hp. Marilah kita sebagai orang tua juga mendukung kebijakan sekolah ini. Untuk pihak-pihak terkait yang erat dengan komunikasi dan kepemudaan hendaklah turut serta untuk ikut mendukung sekolah melakukan sikap melarang siswa membawa hp di sekolah dengan secara rutin melakukan pembinaan pelajar pada sekolah-sekolah terutama penjelasan baik buruknya menggunakan hp secara berlebihan, dengan perhatian serta kerap kali penyuluhan ataupun pengarahan dari orang tua, guru, pihak terkait dan masyarakat sekolah maka akan terkurangilah dampak negatif yang merupakan bahaya laten akibat sms yang dilakukan generasi muda kita. Semoga dengan tulisan kecil ini kita sebagai orang tua, guru serta masyarakat seiya sekata bersepakat untuk memperhatikan aktifitas anak-anak kita menggunakan hp, sehingga anak-anak kita dapat mengerti serta memahami tentang penggunaan hp serta kegunaan sms dan mengerti akan kebebasan dan tanggung jawabnya sebagai pelajar. Dengan memperhatikan aktifitas anak-anak kita menggunakan hp dan ber-sms berarti kita telah turut serta menyelamatkan masa depan anak-anak kita, bangsa dan negara Indonesia tercinta ini.

HAMBATAN UNTUK MEMBUAT DAN MENGESAHKAN PTK

Oleh :

Yustinus Tri Warsanto

Guru Matematika

SMPN 30 Semarang

Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sangatlah berguna dan bermanfaat bagi guru, karena dengan melaksanakan PTK membuat guru menjadi tahu dan tanggap terhadap keadaan , permasalahan dan perkembangan pembelajaran di kelasnya. Dengan guru melaksanakan prosedur dan tahapan atau kegiatan-kegiatan PTK secara benar maka guru tersebut akan mampu belajar untuk memperbaiki proses belajar mengajarnya pada kelas yang diampunya. PTK atau Classroom Action Research juga merupakan salah satu bentuk karya ilmiah yang menjadi syarat penilaian angka kredit pengembangan profesi untuk kenaikan pangkat golongan IV , sehingga pelaksanaan PTK sangatlah berguna untuk mendukung peningkatan jabatan guru. Karena pelaksanaan PTK tidak mengganggu tugas pokok seorang guru dan penelitian tersebut terintegrasi dengan proses belajar mengajar, dengan demikian memudahkan guru untuk melaksanakannya. Tetapi pada kenyataannya sebagian guru tidak bersemangat untuk melaksanakan PTK ini, yang berakibat bertumpuknya guru-guru bergolongan IV/a yang mentok kepangkatannya. Penyebab tidak bersemangatnya guru dalam melaksanakan pembuatan PTK karena berbagai alasan dan hambatan yang berasal dari guru itu sendiri, orang lain maupun dari institusi yang berkompeten untuk pengembangan profesi guru.

Faktor penghambat

Berbagai faktor penghambat guru melaksanakan PTK antara lain

  1. Guru merasa dan mengerti bahwa melaksanakan PTK bukan merupakan suatu kewajiban guru dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, sehingga tidak perlu untuk melaksanakan PTK , karena tidak melaksanakan PTK tidak ada sangsinya
  2. Sejak awal banyak guru yang beranggapan bahwa karya ilmiah dan PTK hanya diperuntukkan untuk guru PNS yang bergolongan IV saja, sehingga guru yang belum bergolongan IV tidak merasa dituntut untuk membuat PTK, dampak yang terjadi adalah kurangnya minat untuk melaksanakan PTK karena merasa masih jauh dan masih merupakan angan-angan untuk sampai ke golongan IV
  3. Kepasrahan dan kepuasan guru yang sudah mencapai ke golongan IV/a, yang beranggapan bahwa kepangkatannya sudah mentok dan tidak bisa lagi naik pangkat karena merasa sudah tidak mampu berpikir lagi untuk melaksanakan PTK dan maaf tidak mau lagi bekerja ekstra meluangkan waktu untuk membuat PTK
  4. Kurangnya pengetahuan guru mengenai PTK yang baik, hal ini disebabkan minimnya pelatihan-pelatihan khusus untuk untuk guru yang dilaksanakan oleh institusi atau lembaga penelitian untuk pengembangan profesi guru
  5. Ketidaktahuan guru tentang PTK yang baik dan layak disebut PTK serta dapat disahkan serta mendapat poin dalam angka kredit pengembangan profesi untuk kenaikan pangkat guru
  6. Ketidakjelasan mengenai lembaga mana yang berhak untuk mengesahkan PTK serta menyatakan bahwa PTK layak disebut PTK dan mendapat nilai poin untuk angka kredit pengembangan profesi sebagai kenaikan pangkat guru

Dari uraian beberapa faktor yang menjadi penghambat pelaksanaan PTK, akan kita fokuskan pada hambatan yang ke 6 yaitu Ketidakjelasan mengenai lembaga mana yang berhak untuk mengesahkan PTK serta menyatakan bahwa PTK yang layak disebut PTK dan mendapat nilai poin untuk angka kredit pengembangan profesi sebagai kenaikan pangkat guru. Karena hambatan inilah yang menyebabkan dasar atau pokok dari hambata-hambatan yang terjadi. Banyak guru yang akan memulai dan bersemangat untuk melaksanakan PTK, tetapi setelah mereka saling bercerita dan berdiskusi serta menyampaikan pengalaman –pengalaman bagaimana caranya mengesahkan dan menilaikan PTK , maka semangat yang tadinya berkobar menyala-nyala menjadi suram bahkan mendekati padam, lemah tanpa hasrat untuk memulai melaksanakan PTK. Karena guru-guru sama-sama tidak tahu harus kemana PTK yang mereka laksanakan akan disahkan , hanya kabar angin yang mereka peroleh, ada yang mengatakan cukup disahkan kepala sekolah yang bersangkutan sudah diakui dan dinilai, tetapi ada juga yang mengatakan harus disahkan oleh LPMP karena sebagai Lembaga Peningkatan Mutu Pendidik yang berhak menilai, serta ada juga yang memberi informasi bahwa pelaksanaan PTK harus bekerja sama dengan lembaga penelitian perguruan tinggi. Dari kerancuan pendapat, kabar angin dan berita-berita yang tidak pasti dan sampai sejauh ini belum ada surat atau edaran pasti yang menyatakan bahwa penilaian PTK dilaksanakan oleh suatu lembaga tertentu yang berhak untuk menilai dan mengesahkan karya ilmiah, sehingga yang muncul adalah melemahnya hasrat dan semangat untuk melakukan penelitian. Meskipun dalam peraturan angka kredit bagi jabatan guru sudah diatur tetapi pada prakteknya berlainan. Guru yang telah melaksanakan PTK dengan tahapan tahapan yang sudah benar tetapi pada akhirnya untuk pengesahannya terhambat atau malah ditolak, membuat banyak guru pasif untuk melaksanakan PTK.

Solusi Penilaian PTK

Karena sama-sama tidak mengetahui informasi yang benar antara satu guru dan guru yang lainnya mengenai cara mengesahkan dan menilaikan PTK, serta tidak adanya surat etau edaran resmi yang menyatakan lembaga atau unit pelaksana yang berhak menilai suatu karya ilmiah , maka solusi tepat untuk tetap semangat dalam pembuatan karya ilmiah khususnya PTK adalah :

  1. Rasa percaya diri dan kemauan yang pasti bahwa pembuatan PTK atau karya ilmiah yang lain, didasari oleh keinginan kita untuk lebih maju , biarpun karya kita dinilai ataupun tidak dinilai kita tetap ndablek untuk menjadi bisa ,. Hal ini akan berakibat positif bagi kita, dimana kita sebagai guru akan terbiasa untuk menulis , meneliti, ataupun melihat suatu permasalahan dalam pembelajaran yang kita laksanakan dengan mencoba mengatasinya melalui suatu penelitian sesuai tahapan PTK
  2. Bahwa penelitian yang akan kita buat dan kita laksanakan bukan hanya semata-mata hanya untuk proses kenaikan pangkat saja melainkan untuk meningkatkan pengetahuan kita serta sebagai ajang latihan dalam mengembangkan dan meningkatkan profesionalisme kita, sehingga kita bisa menjadi guru yang baik sekaligus sebagai guru yang professional
  3. Penelitian yang akan kita laksanakan, kita yakini sebagai langkah maju kita untuk dapat mengatasi sebagian kecil dari permasalahan-permasalahan yang terjadi pada saat proses belajar mengajar berlangsung, sehingga penelitian yang dilaksanakan dapat membantu kesulitan serta permasalahan siswa saat pembelajaran dan kita sendiri sebagai guru mampu mengatasi permasalahan yang terjadi, baik masalah yang ditimbulkan dari siswa maupun dari kita sebagai guru.
  4. Dengan rasa ndablek untuk maju ,dinilai ataupun tidak dinilai, disetujui ataupun tidak disetujui, ajukan penelitian PTK yang kita buat saat mengusulkan penilaian angka kredit, dengan catatan kita melaksanakan PTK sesuai tahapan yang ditentukan. Biarkanlah lembaga yang berwenang akan menilai tidak usah kita pikirkan
  5. Kumpulkan beberapa teman guru untuk bersama-sama mengundang pakar atau ahlinya dalam pembuatan PTK, agar kita mendapat bimbingan dan pengarahan dalam melaksanakan PTK dari awal hingga akhir penelitian, niscaya ada rasa kemantapan akan kerja kita untuk melaksanakan PTK.

Dengan kengototan kita untuk menjadi maju mengembangkan kemampuan pribadi dan sosial serta tanpa memedulikan akan mendapat atau tidak mendapat imbalan berupa nilai angka kredit , disahkan atau tidak disahkan PTK yang kita buat, lama kelamaan, lambat laun pasti PTK yang kita buat akan layak untuk dinilai dan disahkan. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk memicu semangat baru untuk memulai berlatih membuat dan melaksanakan PTK dan jika tulisan ini dibaca oleh para pakar dan lembaga yang berwenang untuk melatih, mengesahkan dan menilai PTK dapat memberikan arahan dan wawasan baru bagi guru-guru untuk pengembangan profesi dan menjadi guru yang professional.