Ayo memburu jadi guru Profesional

guru , berGUna tanpa harus saRU

Selasa, 01 November 2011

MATEMATIKA BUKAN GENDRUWO

MATEMATIKA BUKAN “GENDRUWO” Oleh: Yustinus Tri Warsanto Guru SMPN 30 Semarang TERBIT DI KORAN JAWA POS RADAR SEMARANG MINGGU,TANGGAL 2 OKTOBER 2011 Gendruwo menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah kata yang berasal dari Bahasa Jawa yang artinya sejenis hantu yang digambarkan sebagai manusia berbulu tebal, dalam Bahasa Indonesia disebut momok yang berarti hantu atau sesuatu yang ditakuti. Demikian pula matematika selalu menjadi gendruwo atau momok yang berarti hantu yang ditakuti bagi peserta didik terutama saat menjelang Ujian Nasional. Hal ini ada benarnya, karena peserta didik selalu menghadapi soal-soal matematika yang menurut perasaan mereka sangat sulit dan selalu tidak bisa menjawab dengan benar soal-soal yang diberikan oleh gurunya, sehingga peserta didik mempunyai perasaan takut terhadap soal-soal matematika. Ketakutan kalau pada saat Ujian Nasional nanti tidak bisa menyelesaikan soal dengan benar, sehingga nilai matematikanya jatuh dan tidak memenuhi kriteria kelulusan yang telah ditentukan oleh pemerintah. Karena tidak memenuhi kriteria kelulusan atau standar kelulusan maka dinyatakan tidak lulus, akibatnya jika ada pelajaran matematika atau melihat guru matematikanya seakan merasa melihat hantu gendruwo atau momok yang ditakuti. Banyak penyebab dan pengaruh yang menjadikan peserta didik merasa kesulitan dan tidak bisa menyelesaikan soal matematika dengan benar, kemudian terhadap pelajaran matematika mulai tumbuh rasa takut yang selalu menghantui dalam kehidupan belajar peserta didik. Untuk mengetahui penyebab dan pengaruh tersebut, kita sebagai guru harus mau meninjau terhadap sikap diri kita, mawas diri atau introspeksi baik pada saat mengajar maupun setelah mengajar. Introspeksi kita yang pertama adalah, apakah kita sudah mengenal peserta didik? Mengenal baik secara fisik maupun secara mental. Kedua, apakah kita sudah memberikan materi matematika sesuai porsi yang seharusnya? Porsi sesuai fisik dan mental peserta didik. Ketiga, apakah kita sudah memberikan materi matematika sesuai konsep atau kaidah yang benar? Konsep dan kaidah yang benar sesuai porsi yang telah ditentukan. Keempat, apakah kita sudah mengetahui bahwa materi yang kita berikan sudah dimengerti dan dipahami peserta didik? Dipahami dan dimengerti sesuai konsep dan kaidah yang berlaku, dan yang kelima, apakah kita sudah berusaha membantu kesulitan peserta didik untuk memahami materi yang kita berikan? Membantu sesuai kesulitan yang dialami baik secara fisik maupun mental peserta didik kita. Marilah kita kupas satu persatu kelima pertanyaan introspeksi diri sebagai seorang guru matematika. Pertama adalah mengenal peserta didik, mereka adalah manusia yang unik yaitu mempunyai kemampuan, pikiran dan olah rasa yang berbeda satu sama lain, manusia yang mempunyai ciri khas atau kekhususan tersendiri, berarti sebagai guru kita harus atau berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan sesuai keunikan masing-masing peserta didik, karena peserta didik adalah modal dasar dari seorang guru untuk memulai mengajar dan jika kita sudah mengenal secara fisik maupun mental peserta didik maka kita sebagai guru dapat menjadi sahabat mereka sehingga rasa takut terhadap guru matematika akan berkurang atau bahkan hilang, sehingga keadaan ini memudahkan guru untuk mengajar dengan berbagai gaya, metode dan model yang dapat dimengerti dan dipahami oleh peserta didik. Dalam pembelajaran yang kita lakukanpun dapat menjaga perasaan dan mental peserta didik. Sebagai contoh kita mengajar penjumlahan bilangan bulat, pada saat kita menjumlahkan bilangan negatif dengan bilangan positif adakalanya kita sebagai guru mengumpamakan bilangan negatif sebagai hutang, sementara peserta didik sebagian besar secara fisik dan mental dari keluarga mampu mereka tidak pernah tahu namanya hutang, namun jika peserta didik dari golongan menengah ke bawah (maaf) dan orang tuanya sering berhutang mungkin saja mereka dapat menerima penjelasan dari guru, tetapi mungkin saja tanpa sepengetahun kita, peserta didik akan merasa minder bahwa orang tua mereka sering berhutang dan harus membayar hutang tersebut yang berdampak peserta didik ikut menanggung beban pikiran, dengan demikian penjelasan yang mengumpamakan bilangan negatif sebagai berhutang pada peserta didik merupakan hal yang tidak sesuai dengan penanaman pendidikan berkarakter, maka pembelajaran yang kita berikan tidak pas secara fisik dan mental. Untuk porsi materi matematika yang diberikan harus sesuai dengan seharusnya, maksudnya materi matematika kita berikan menurut silabus yang kita buat dan kita kembangkan sesuai fisik dan mental peserta didik, banyak guru matematika memberikan materi kurang ataupun melebihi porsi, maaf hal ini sering terjadi dikarenakan ingin dilihat dan diakui bahwa guru sekolah yang bersangkutan adalah guru yang hebat , guru yang selalu memberi soal-soal matematika yang sulit, soal yang belum saatnya diberikan sudah disajikan lebih dahulu (kecuali program olimpiade), sehingga peserta didik merasa takut tidak bisa menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Ada juga guru yang saking asyiknya mengajar satu materi tertentu sampai lupa materi yang lain, sehingga untuk menyajikan materi yang lain, guru sudah kehabisan waktu. Akibat yang terjadi peserta didik disuruh belajar sendiri, jika fisik dan mental mereka belum siap untuk belajar mandiri maka akibatnya peserta didik akan semakin bingung yang berimbas kesulitan menyelesaikan soal-soal matematika dan menjadi-jadi ketakutannya terhadap matematika. Introspeksi yang ketiga adalah konsep dan kaidah yang benar sesuai porsi yang tidak berlebihan ataupun porsi yang kurang adalah modal dimana peserta didik mampu memahami materi matematika sebaik mungkin yang berdampak positif yaitu dapat menyelesaikan soal-soal matematika dengan benar. Jika kita sebagai guru memberikan konsep yang salah dan kita mengetahuinya hendaknya kita harus berani membenarkan kesalahan kita. Contoh sederhana yang sering kali kita melakukan kesalahan yaitu memberikan aturan pemberian nama dari suatu bangun ruang sisi datar misalnya balok, sebuah balok kita beri nama balok ABCD.EFGH. Memang sederhana hanya memberi nama balok tetapi jika kita sebagai guru hanya menuliskan saja nama balok tersebut pada gambar tanpa menjelaskan aturannya bisa mengakibatkan pemahaman peserta didik salah dan berlainan persepsi dengan apa yang seharusnya, maka peserta didik akan menjawab salah semua soal-soal yang berhubungan dengan unsur-unsur balok. Konsep salah akan tertanam berkelanjutan terus menerus, lebih-lebih jika salah konsep pada materi yang esensial maka akan mempengaruhi semua materi, sehingga dalam menyelesaikan soal-soal matematika akan selalu salah, dampak yang timbul adalah persepsi peserta didik bahwa matematika adalah pelajaran sulit. Karena selalu salah dan beranggapan matematika adalah pelajaran sulit memunculkan kembali perasaan takut akan matematika, seperti gendruwo yang selalu ingin menakut-nakuti. Setelah kita memberikan pembelajaran sesuai konsep dan kaidah yang benar, maka sebagai seorang guru yang bersahabat dengan peserta didik hendaknya kita mau menanyakan kepada sahabat kita, apakah sahabat kita yang nota bene adalah peserta didik kita sudah mudeng mengenai materi yang telah kita berikan. Jika kita sebagai guru bertanya kepada peserta didik tentang materi yang telah diajarkan pastilah jawaban yang akan diberikan oleh peserta didik adalah: sudah mudeng pak, atau sudah jelas pak! Tetapi jika kita bertanya sebagai seorang sahabat, kemungkinan besar sahabat kita akan berkeluh kesah mengenai pemahaman yang diterima, namun dalam persahabatan ini adalah persahabatan sesuai konsep dan kaidah profesi guru, masih tetap ada batasan-batasan tertentu antara guru dan peserta didik. Seorang guru yang sudah mengerti tentang seberapa pemahaman peserta didiknya hendaknya segera membantu untuk mengatasi kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal matematika yang diberikan. Bantulah peserta didik secara individu untuk mengatasi kesalahan-kesalahan yang terjadi. Sebagai contoh pernah terjadi peserta didik saya selalu salah dalam mengerjakan soal fungsi yang salah satu variabelnya berpangkat, sampai-sampai putus asa dan mengeluh “… pak pak sampai jambul wanen salah terus…” yang artinya “ …pak pak sampai rambutku putih salah terus … “ keluhan inilah yang mengakibatkan gendruwo-nya bangkit kembali, rasa putus asa dan ketakutan untuk menyelesaikan soal yang berakibat munculnya rasa khawatir dan takut salah lagi menimbulkan antipati terhadap pelajaran matematika. Setelah saya dekati sebagai seorang sahabat dan saya lihat cara menyelesaikannya, kesalahannya sangat sederhana yaitu bilangan berpangkat selalu diselesaikan dengan cara bilangan dikalikan dengan pangkatnya. Hal sederhana inilah yang memerlukan bantuan dan bimbingan guru secara individual untuk mengatasi permasalahan yang selalu timbul pada peserta didik. Dari kelima pertanyaan introspeksi diri seorang guru matematika, dapat disimpulkan bahwa guru matematika tidak hanya pandai berhitung saja melainkan harus mampu mengenal peserta didiknya secara fisik dan mental agar porsi materi yang kita berikan bisa dipahami sesuai dengan kaidah dan konsep yang berlaku serta kita mampu membantu kesulitan peserta didik secara individual sesuai dengan kebutuhan fisik dan mentalnya. Dengan ulasan mawas diri inilah kita dapat menghapus image peserta didik yang semula menganggap bahwa matematika sangat menakutkan seperti gendruwo, berubah menjadi matematika bukan gendruwo tetapi matematika adalah pelajaran menyenangkan dimana gurunya bersikap bersahabat dengan peserta didik dan yang terpenting peserta didik tidak mengalami kesulitan berarti untuk menyelesaikan soal-soal matematika. Semoga. SILAHKAN COPY DAN MAAF SEBUTKAN PENULIS ASLINYA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar